From merto with love[1]
A. Berawal
dari sebuah ujub
Perjalanan ini berawal dari sebuah ujub.
Awalnya hanya sebuah ajakan –ajakan untuk melakukan perjalanan panjang dari
Mertoyudan sampai Ganjuran. Namun dari ajakan itu muncu janji-janji suci dan
ujub dari kami dalam perjalanan peregrinasi ini. Saatnya pun tiba. Dengan
kesepakatan-kesepakatan, membuat ini semua menjadi mudah. Awalnya kami kira
begitu. Bermula dari seminari, dengan penuh cinta kami berjalan.
Perjalanan yang memakan jarak 65 kilometer, ada dan
membentang. Memang jaraknya membuat ini semua mengagumkan. Tapi tetap saja yang
namanya peregrinasi harus diserta kekuatan iman dan fisik. Doakan kami. karena
sebentar lagi kami berangkat. Bersama-sama berjalan mengarungi jalan yang bakal
panas dan dingin karena terik dan hujan. Bertengkar karena fisik yang lemah dan rebuatan kesenangan untuk
pribadi kami. dan itu semua ada dalam perjalanan ini. Doakan agar semua ujub
itu berhasil.
B. With
Love
14.15
kami berangkat dari
mertoyudan dengan satu fokus. Sampai Ganjuran. Perjalanan dimulai dengan
semangat membara. Berkali-kali kami hampir jatuh terpeleset karena ada
perbaikan jalan. Kerikil-kerikil kecil menusuk kaki kami yang kami gunakan
untuk memuliakan namaNya. Kami berjalan beriringan layaknya sebuah konfoi.
Pelan tapi pasti. Dengan semangat empat lima kami berjalan sampai ke
pemberhentian pertama Salam Tempel. Beristirahat sejenak sembari makan malam.
Langkah kaki yang tak pernah lelah berpijak ini, mengantarkan kami ke warung Bu
Sri. Dan tanpa sepengetahuan Bisnis, kami lahap sepiring nasi goreng
magelangan, beberapa kripik tempe dan imbuh
berupa mie godhog.
19.30 kami
berangkat, dari Warung Bu Sri. Kami melanjutkan perjalanan kami yang mulai
melelahkan ini. Setelah sebelumnya bergelut dengan harga makanan yang kami
makan.(larang tenan rek!). dan setelah itupun kami bersama-sama berjalan
memulai kembali apa yang telah kami kerjakan. Perjalanan ini sepertinya memang
diperuntukan bagi kami. selama perjalanan kami, andy dan felix sempat Rosario
sambil berjalan. Ayok menyusul, Alit, Semuanya ikut berosario. Filosofi
kebersamaan tetap kami junjung karena itu filosopi kami dalam peregrinasi ini.
Kami memasuki wilayah lapangan sleman.
Yang membuat kami terpaksa mampir melihat “keindahan pasar malam”. Kami mencoba
untuk menahan keinginan pribadi dan lebih belajar untuk bagaimana menghargai
pilihan-pilihan kami dan rela mengorbankan kesenangan pribadi bagi kesenangan
bersama. Dengan tertatih-tatih kami bersama-sama mencapai pemberhentian kedua
JOMBOR. Di sinilah focus kami di tantang untuk tetap dilaksanakan. Pengalaman
“mampir” yang sedikit menghambat laju berjalan kami, menjadi pengalaman
berharga yang tak dapat dilupakan begitu saja. Kami tak lama di sini. Kami
terus berjalan. Tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh para anak muda yang
sudah kehilangan minat kepada hal rohani di depan liquid dan jogja-jogja. Kami
masih bertahan. Berjalan dan terus berjalan. Sampai tau atau tak tahu, kami
terus berjalan.
C. Fall
For You
03.00
kami meninggalkan
Jombor beserta dengan peristiwa-peristiwa ketidakbesamaan kami sebelumnya.
Langkah kami yang pada awalnya tidak teratur mulai kembali teratur. Pengalaman
“mampir” telah mempererat nilai kebersamaan kami. Semangat kami kembali tumbuh
beserta pegal dan capai yang menyertai. Kami mencoba mempertahankan komitmen
kami, untuk tetap bertahan di saat kami telah memilih dan menjalani apa yang
menjadi tujuan yang terbentang lurus layaknya jalan yang telah terbentang lurus
dan panjang terlewati. Pengalaman di saat itu menjadi saat bagi kami untuk
menjadi pendengar yang baik dan menjunjung tinggi nilai solidaritas dimana
ternyata kami tidak berjalan sendiri. Kami berjalan bersama dalam satu tujuan
yang mulia. Kami tidak berjalan berbelakangan. Kami tidak berjalan saling
mendahului. Tapi kami berjalan bersama beriringingan. Berada di samping untuk
saling bersama mencapai tujuan kami yang mulia itu. Kami kembali menlanjutkan perjalanan
kami. menyisiri kota pelajar diembusi oleh angin menjelang matahari terbit.
Tetapi matahari yang mau terbit itu tak
bersinergis dengan semangat kami yang semakin surut. Beberapa di antara kami,
semangatnya mulai padam. Langkah yang semakin menunjukkan langkah gontai
semakin menyertai perjalanan yang masih panjang membentang. Kami mencoba saling
melengkapi, berjalan dengan saling membantu dan menyemangati. Kekuatan kebersamaan
yang terbangun ternyata bertolak belakang dengan kenyataan yang harus kami
hadapi. Satu per satu langkah kami gontai. Kami tak tahu mau berbuat apa.
Langkah kami pun sudah panjang kami pijakkan. Menyerah menjadi kata yang selalu
terlintas dalam bayang kami. tetapi kami bersyukur. Kami masih memiliki iman
sebesar biji sesawi hanya demi memindahkan gunung pun, kami mampu lakukan.
Akhirnya kami pun tetap berjalan beriringingan dengan langkah gontai yang
menyertai tujuan mulia kami. Hari ini menjadi saat dimana kami ditelanjangi
akan kasihMu yang begitu dashyat menyertai kami. Kekuatan kami pun tak mampu
kami gapai tanpa kasihMu yang mengalir dalam diri kami.
06.30
… saat itu menjadi ujian
di antara kami. dua di antara kami harus berpisah dan memilih untuk naik
kendaraan menuju Ganjuran. Di saat, itulah menjadi tamparan dan hentakan di
antara kami bertiga yang tetap berkeinginan untuk berjalan. Apakah akan tetap
berjalan menuju tujuan mulia tersebut atau hanyalah tujuan yang mulia terukir
di dalam angan-angan kami. Tanpa memperhatikan logika kami, tanpa memperhatikan
keadaan kami, dan hanya percaya kepada iman kami sebesar biji sesawi, kami
bertiga[2] tetap melanjutkan perjalanan kami dengan
sarana yang berbeda yaitu kaki kami yang mulai remuk.
09.15
Ssszzzt… kami bertiga
tertidur di emperan toko ketika kami istirahat. Ternyata beban kelopak mata
yang telah melebihi muatan tak mampu kami bendung. Walau bagaimanapun juga kami
tetap mencoba untuk bangun dan melanjutkan perjalanan kami. kami sudah amat
lelah. Tenaga kami sudah low bath.
Kami hanya berpegang pada Dia yang telah menyelenggarakan saat yang baik untuk
menyelesaikannya dengan baik pula. Jalan lurus dan sangat panjang tak henti-hentinya
menjadi pemandangan kami. mata yang berfatamorgana menjadi biasan tujuan kami
yang semakin pudar. Kami tak mampu berpikir lagi. Iman yang semakin besar hanya
menjadi penuntun kami. kami hanya berjalan dengan iman.
09.30Ketika kami meihat papan bertuliskan
“SMA Stella Duce Bantul”, adrenalin kami sedikit demi sedikit semakin terpacu. Tinggal
ngesot dikit, kami hampir sampai di tempat tujuan mulia kami. Kami
mempercepat langkah kami untuk menuju Sang Bunda yang penuh kasih. Dan…..kami
pun sampai di Gua Hati Kudus Ganjuran. Di sana, kami bertemu dengan dua teman
kami yang telah mendahului kami. lengkap sudah kebersamaan kami ketika kami
berkumpul kembali di Gua Hati Kudus Ganjuran. Iman kami akan Dia yang telah
mengutus kami, telah menyempurnakan dengan sempurna. Elegansi yang telah kami
ukir menjadi pengalaman yang berbuah positif untuk semakin memuji dan memuliakan
namaNya. Dan kebersamaann kami dalam peregrinasi ini akan terus terukir di hati
kami masing-masing.
Merto-joe-edan, 4/5/2010
Dan Ternyata cinta yang menguatkan aku…
Ketika
“ngesot” datang dan membuat kami tertawa,
Felix
bahagia karena GNK ,
Ayok
yang ceria karena AsIn,
Beserta
Mael, Aleet dan Andy Tegal sang penikmat cinta…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar