Selasa, 29 November 2011

From merto with love


From merto with love[1]

A.    Berawal dari sebuah ujub

Perjalanan ini berawal dari sebuah ujub. Awalnya hanya sebuah ajakan –ajakan untuk melakukan perjalanan panjang dari Mertoyudan sampai Ganjuran. Namun dari ajakan itu muncu janji-janji suci dan ujub dari kami dalam perjalanan peregrinasi ini. Saatnya pun tiba. Dengan kesepakatan-kesepakatan, membuat ini semua menjadi mudah. Awalnya kami kira begitu. Bermula dari seminari, dengan penuh cinta kami berjalan.

Perjalanan yang memakan jarak 65 kilometer, ada dan membentang. Memang jaraknya membuat ini semua mengagumkan. Tapi tetap saja yang namanya peregrinasi harus diserta kekuatan iman dan fisik. Doakan kami. karena sebentar lagi kami berangkat. Bersama-sama berjalan mengarungi jalan yang bakal panas dan dingin karena terik dan hujan. Bertengkar karena fisik  yang lemah dan rebuatan kesenangan untuk pribadi kami. dan itu semua ada dalam perjalanan ini. Doakan agar semua ujub itu berhasil.

B.     With Love
14.15 kami berangkat dari mertoyudan dengan satu fokus. Sampai Ganjuran. Perjalanan dimulai dengan semangat membara. Berkali-kali kami hampir jatuh terpeleset karena ada perbaikan jalan. Kerikil-kerikil kecil menusuk kaki kami yang kami gunakan untuk memuliakan namaNya. Kami berjalan beriringan layaknya sebuah konfoi. Pelan tapi pasti. Dengan semangat empat lima kami berjalan sampai ke pemberhentian pertama Salam Tempel. Beristirahat sejenak sembari makan malam. Langkah kaki yang tak pernah lelah berpijak ini, mengantarkan kami ke warung Bu Sri. Dan tanpa sepengetahuan Bisnis, kami lahap sepiring nasi goreng magelangan, beberapa kripik tempe dan imbuh berupa mie godhog.  
19.30  kami berangkat, dari Warung Bu Sri. Kami melanjutkan perjalanan kami yang mulai melelahkan ini. Setelah sebelumnya bergelut dengan harga makanan yang kami makan.(larang tenan rek!). dan setelah itupun kami bersama-sama berjalan memulai kembali apa yang telah kami kerjakan. Perjalanan ini sepertinya memang diperuntukan bagi kami. selama perjalanan kami, andy dan felix sempat Rosario sambil berjalan. Ayok menyusul, Alit, Semuanya ikut berosario. Filosofi kebersamaan tetap kami junjung   karena itu filosopi kami dalam peregrinasi ini.
Kami memasuki wilayah lapangan sleman. Yang membuat kami terpaksa mampir melihat “keindahan pasar malam”. Kami mencoba untuk menahan keinginan pribadi dan lebih belajar untuk bagaimana menghargai pilihan-pilihan kami dan rela mengorbankan kesenangan pribadi bagi kesenangan bersama. Dengan tertatih-tatih kami bersama-sama mencapai pemberhentian kedua JOMBOR. Di sinilah focus kami di tantang untuk tetap dilaksanakan. Pengalaman “mampir” yang sedikit menghambat laju berjalan kami, menjadi pengalaman berharga yang tak dapat dilupakan begitu saja. Kami tak lama di sini. Kami terus berjalan. Tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh para anak muda yang sudah kehilangan minat kepada hal rohani di depan liquid dan jogja-jogja. Kami masih bertahan. Berjalan dan terus berjalan. Sampai tau atau tak tahu, kami terus berjalan.
C.    Fall For You
03.00 kami meninggalkan Jombor beserta dengan peristiwa-peristiwa ketidakbesamaan kami sebelumnya. Langkah kami yang pada awalnya tidak teratur mulai kembali teratur. Pengalaman “mampir” telah mempererat nilai kebersamaan kami. Semangat kami kembali tumbuh beserta pegal dan capai yang menyertai. Kami mencoba mempertahankan komitmen kami, untuk tetap bertahan di saat kami telah memilih dan menjalani apa yang menjadi tujuan yang terbentang lurus layaknya jalan yang telah terbentang lurus dan panjang terlewati. Pengalaman di saat itu menjadi saat bagi kami untuk menjadi pendengar yang baik dan menjunjung tinggi nilai solidaritas dimana ternyata kami tidak berjalan sendiri. Kami berjalan bersama dalam satu tujuan yang mulia. Kami tidak berjalan berbelakangan. Kami tidak berjalan saling mendahului. Tapi kami berjalan bersama beriringingan. Berada di samping untuk saling bersama mencapai tujuan kami yang mulia itu. Kami kembali menlanjutkan perjalanan kami. menyisiri kota pelajar diembusi oleh angin menjelang matahari terbit.
Tetapi matahari yang mau terbit itu tak bersinergis dengan semangat kami yang semakin surut. Beberapa di antara kami, semangatnya mulai padam. Langkah yang semakin menunjukkan langkah gontai semakin menyertai perjalanan yang masih panjang membentang. Kami mencoba saling melengkapi, berjalan dengan saling membantu dan menyemangati. Kekuatan kebersamaan yang terbangun ternyata bertolak belakang dengan kenyataan yang harus kami hadapi. Satu per satu langkah kami gontai. Kami tak tahu mau berbuat apa. Langkah kami pun sudah panjang kami pijakkan. Menyerah menjadi kata yang selalu terlintas dalam bayang kami. tetapi kami bersyukur. Kami masih memiliki iman sebesar biji sesawi hanya demi memindahkan gunung pun, kami mampu lakukan. Akhirnya kami pun tetap berjalan beriringingan dengan langkah gontai yang menyertai tujuan mulia kami. Hari ini menjadi saat dimana kami ditelanjangi akan kasihMu yang begitu dashyat menyertai kami. Kekuatan kami pun tak mampu kami gapai tanpa kasihMu yang mengalir dalam diri kami. 
06.30 … saat itu menjadi ujian di antara kami. dua di antara kami harus berpisah dan memilih untuk naik kendaraan menuju Ganjuran. Di saat, itulah menjadi tamparan dan hentakan di antara kami bertiga yang tetap berkeinginan untuk berjalan. Apakah akan tetap berjalan menuju tujuan mulia tersebut atau hanyalah tujuan yang mulia terukir di dalam angan-angan kami. Tanpa memperhatikan logika kami, tanpa memperhatikan keadaan kami, dan hanya percaya kepada iman kami sebesar biji sesawi, kami bertiga[2]    tetap melanjutkan perjalanan kami dengan sarana yang berbeda yaitu kaki kami yang mulai remuk.
09.15 Ssszzzt… kami bertiga tertidur di emperan toko ketika kami istirahat. Ternyata beban kelopak mata yang telah melebihi muatan tak mampu kami bendung. Walau bagaimanapun juga kami tetap mencoba untuk bangun dan melanjutkan perjalanan kami. kami sudah amat lelah. Tenaga kami sudah low bath. Kami hanya berpegang pada Dia yang telah menyelenggarakan saat yang baik untuk menyelesaikannya dengan baik pula. Jalan lurus dan sangat panjang tak henti-hentinya menjadi pemandangan kami. mata yang berfatamorgana menjadi biasan tujuan kami yang semakin pudar. Kami tak mampu berpikir lagi. Iman yang semakin besar hanya menjadi penuntun kami. kami hanya berjalan dengan iman.
09.30Ketika kami meihat papan bertuliskan “SMA Stella Duce Bantul”, adrenalin kami sedikit demi sedikit semakin terpacu. Tinggal ngesot dikit, kami hampir sampai di tempat tujuan mulia kami. Kami mempercepat langkah kami untuk menuju Sang Bunda yang penuh kasih. Dan…..kami pun sampai di Gua Hati Kudus Ganjuran. Di sana, kami bertemu dengan dua teman kami yang telah mendahului kami. lengkap sudah kebersamaan kami ketika kami berkumpul kembali di Gua Hati Kudus Ganjuran. Iman kami akan Dia yang telah mengutus kami, telah menyempurnakan dengan sempurna. Elegansi yang telah kami ukir menjadi pengalaman yang berbuah positif untuk semakin memuji dan memuliakan namaNya. Dan kebersamaann kami dalam peregrinasi ini akan terus terukir di hati kami masing-masing.

Merto-joe-edan, 4/5/2010
Dan Ternyata cinta yang menguatkan aku…
Ketika “ngesot” datang dan membuat kami tertawa,
Felix bahagia karena GNK ,
Ayok yang ceria karena AsIn,  
Beserta Mael, Aleet dan Andy Tegal sang penikmat cinta…          






[1] Judul dari refleksi kami berlima tentang perjalanan peregrinasi( mael, felix, alit, andy p, ayok)
[2] Felix, Ayok dan Andy P

Tidak ada komentar:

Posting Komentar