Became Aware…Thanks For Beloved One
5 April 2010, sebuah paket mendarat di Seminari Menengah Mertoyudan. Aku penasaran akan apa yang ia berikan padaku. Aku tahu itu sebuah buku karena ia pernah berkata padaku. Kubuka amplop besar coklat yang bertuliskan nama dan alamat ia mengirimkannya. Aku buka dengan (hati)-hati dan aku coba keluarkan secara perlahan. Seperti yang telah kuduga sebuah buku dan sebuah surat yang yang diselipkan dalam halaman awal buku ini. Ada juga sebuah pembatas buku yang bertuliskan “I believe I can fly” dan tulisan kecil di bawahnya SMA Stella Duce 1 Jl. Sabirin 1-3 Yogyakarta .
“Have a little faith Sadarlah “ buku karangan Mitch Albom seorang penulis buku bestseller Tuesdays with Morrie ini telah ada dalam dekapan tanganku. Ia mendarat dengan selamat tanpa harus nyasar. Kubuka halaman pertama dan sebuah surat kutemukan. Kubuka dan kubaca secara perlahan-lahan…
Masnya:D Hai, masnya kayaknya kita jadul amat ya … pake surat-suratan..ga papa deh……biar lucu…haha…nih aku kirim buku sebagai tanda terima kasih buat semuanya..hehe…aku ga tahu isi buku ini… tapi kayaknya bagus..haha..semoga suka ya..
Aku juga mau ngucapin selamat udah nyelesain semua ujian! Semoga hasilnya memuaskan yaa! Hehe s’moga perjuangan selama ini berbuah manis..pokoknya doaku selalu sertamu lah..haha
Udah deh…,soalnya aku bingung mau ngomong apa…tak pernah surat-suratan soalnya..akhir kata (halah)
Keep fighting !:D *sorry kalo tulisannya ga jelas:D
tertanda
* awas ngetawain tanda tanganku
Di balik itu semua ada pengalaman berharga yang tak akan kulupakan. Entah mengapa dia menjadi bagian dalam hidupku. Malas menceritakan, yang pasti ia menjadi seorang teman berdiskusi, sahabat yang mau mendengarkan, adik yang harus diperhatikan, penggombal tangguh seperti aku, tapi ia lebih dari itu semua..someone spesial. Sampai suatu ketika, dimulailah refleksi tentang hal-hal romantis gombaltis abis.
Have a Little Faith…
Must not have a big faith but it’s enough if have a little faith I can do the best for my deepest longing .
Aku tak tahu buku itu ternyata cocok dengan diriku. Pikiran nakalku: wah mungkinkah ada ikatan batin antara diriku dan dirinya? Aku tak berani menjawab. Tapi, isi buku itu menjadi refleksi terakhir yang paling menarik sebelum hijrah ke proses formatio lebih lanjut. Tak hanya si pemberi yang istimewa tapi isi buku itu juga teramat sangat istimewa. Menjadi kesimpulan sejarah panggilan dan sejarah hidupku. Aku telah ada di sini, masih ada di sini, dan terus ada di sini semuanya toh berawal dari iman kecil yang semakin hari semakin kusadari.
My little faith…
Aku mendaftarkan diri di Seminari Menengah Mertoyudan bukanlah pertama-tama karena aku mempunyai keyakinan yang besar. Buktinya sampai dua kali aku harus mencicipi kandidatan dan aku berjudi dengan keyakinan kecil di dalamnya. Itulah pertama kali aku menyadari ada benih panggilan dalam hidup ini. Itulah pertama kali aku belajar beriman di Seminari.
Suatu ketika aku berniat untuk masuk orkes besar, Canisii Seminarium Orchestra. Bayanganku para orkestrawan itu dapat keliling paroki-paroki, sekolah-sekolah, dan selalu bertemu orang-orang baru pokoknya keren dah.. Tapi, aku mencoba realistis, sulit sepertinya untuk dapat masuk di dalamnya. Muncul keraguan karena aku belum pernah memainkan alat bahkan memegang alat yang dinamakan violin itu. Tapi, seperti yang kukatan tadi ada setitik iman, ia mengatakan padaku, “kamu akan berkembang banyak bila kamu masuk di dalamnya”. Aku berlatih secara rutin dengan menghafal letak jari, mengepaskan nada, belajar cara menekan dan vibrasi, serta latihan lagu-lagu klasik. Akhirnya aku pun diterima.
Masuk IFO besar sepak bola juga suatu hal yang menurutku bagian dari sebuah iman. Aku gemar bermain sepak bola tapi suatu ketika aku dilanda pesimistis, dapatkah aku bermain untuk IFO besar?. Tapi, akhirnya hal itu pun menjadi kenyataan. Dan kembali, semuanya berawal dari a little faith...
Tidak harus kumilikki iman yang besar tapi cukuplah dengan iman yang kecil aku dapat melakukan yang terbaik dalam rutinitas hidupku…
Too Sweet to Forget..
Pengalamanku bertemu dengannya adalah pengalaman yang dilandaskan juga oleh a little faith. Suatu doa kuhunjukkan pada Tuhanku suatu ketika…
…Tuhan berikanlah aku sebuah pengalaman di mana aku dapat mengolah perasaan yang mendalam dengan teman yang berbeda jenis..sehingga aku nantinya dimampukan untuk menjawab YA atas panggilanmu ini…
Dan Selama pendidikan di seminari pengalaman so sweet bermunculan secara tiba-tiba. Tapi hanya dialah yang mampu mengubah hidupku. Ia merubah paradigma awalku…perempuan sebagai racun panggilan..menjadi..perempuan bukanlah penghambat tapi mereka juga bagian dalam pendukung panggilan ini…Darinya aku belajar tidak egois dalam hidup. Aku mulai melucuti kelekatanku dengannya dan menempatkan cinta yang universal pada sesama manusia sebagai yang utama. “Cinta yang sejati adalah cinta yang saling mendukung tanpa kelekatan bahkan mengubah orientasi hidup”, katanya padaku…”walaupun hal itu menyakitkan”,..kataku menambah gombalannya.
Tak ada alasan bagiku untuk meninggalkan pangilan imamat ini. Aku telah banyak dikasihi oleh Tuhan lewat orang-orang yang mencintaiku. Dan pengalaman bersama a little faith memampukanku untuk menjawab YA atas panggilan Tuhan.
Tak ada kelekatan lagi. Pengalaman bersamanya adalah pengalaman too sweet to forget. Tapi pengalamanku memperjuangkan panggilan imamat dengan mengenal Yesus, Memahami, dan menjadi murid-Nya adalah pengalaman tanpa kata-kata. Pengalaman yang melampui sebuah perasaan. Pengalaman yang sakral untuk menjawab kerinduan terdalam. Aku siap sakit = rela berkorban karena memilih Yesus sebagai orientasi hidupku :P.
24 april 2010
Felixarberd_the man who have a little faith
Tidak ada komentar:
Posting Komentar